Wednesday, October 10, 2012

Islam adalah sistem “Rabbani” dan sistem ini hanya dapat tegak dengan Tarbiyah Islamiyah yang sahih.

Islam itu bersifat Rabbani kerana ia bersandar pada Allah sebagai :
  1. Ar-Rabb.
  2. Pencipta
  3. Pemilik.
  4. Pemelihara.
  5. Pendidik.
  6. Penguasa Alam Semesta.
Allah yang maha Perkasa dan Maha Bijaksana itulah yang menjadi sumber Islam, menjadi pemilik dan pendidik mereka yang hidup dalam naungan Islam.
Generasi para sahabat Rasulullah saw adalah contoh konkrit hidupnya ruh tarbiyah dalam suatu masyarakat.
Allah membimbing dan memimpin mereka menjadi umat terbaik yang ditampilkan ditengah-tengah manusia.
Umat pilihan ini hidup di bawah naungan hidayah Allah (Al Qur’an) dan gerakan aktiviti mereka tidak lain melainkan penghayatan dan pengamalan Al Qur’an.
Inilah generasi Qur’ani yang unik, yang patut diteladani sepanjang masa oleh setiap generasi.
Generasi Qur’ani yang Rabbani ini telah melaksanakan suatu pola pentarbiyahan yang paling benar dan tepat serta tidak mungkin dapat ditandingi oleh pola-pola lain yang datang di belakangnya, apalagi yang datang dari sistem jahiliyah.
Pola ini dapat digali dari sirah perjuangan Rasulullah saw namun intipatinya telah dinyatakan oleh Allah swt :
“Tetapi jadilah kamu orang-orang Rabbani, disebabkan kamu selalu mengajarkan Al Qur’an dan disebabkan kamu sentiasa mempelajarinya”. (QS Ali Imran : 79)
Hidup bersama Al Qur’an bererti :
  1. Belajar.
  2. Mengajar.
  3. Menghayati.
  4. Mengamalkan.
  5. Memperjuangkan petunjuk Allah ini.
Allah akan menjadi pembimbing suatu masyarakat yang melaksanakan sistem ini selama mana mereka memiliki motivasi yang benar.
“Dengan Kitab (Al Qur’an) itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan-jalan keselamatan. Dan dengan (Al Qur’an) itu Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus”. (QS Al Maaidah : 16)
Ironiknya kaum muslimin dewasa ini semakin jauh dari pola ini yang menyebabkan mereka terlepas dari pertolongan Allah.
Hilangnya interaksi kaum muslimin dengan Al Qur’an menyebabkan kehilangan imuniti untuk menolak konsep lain. Maka merasuklah pemikiran-pemikiran jahiliyyah pada diri mereka.
Allah swt  memperingatkan mereka :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu (Al Qur’an) maka baginya sungguh ada kehidupan yang sempit”. (QS Thaha : 124)
Hilangnya ruh  dan cahaya Al Qur’an memang merupakan satu penyakit yang kronik ditubuh umat Islam. Ia menggigit dan memakan setiap potensi dan kekuatan umat Islam serta menggelincirkan pada lumpur-lumpur kesesatan.
Hanya dengan kembali kepada sunnah Rasulullah saw dalam mentarbiyah para sahabatnya, cahaya yang hampir padam itu dapat dikobarkan kembali.
Tradisi Rasulullah saw pun akan  memberi kekebalan terhadap masuknya kefahaman jahiliyah dari luar Islam. Ia merupakan sistem Rabbani yang khas dan tidak akan sama dengan sistem lain.
Tarbiyah Islamiyah yang sahih meliputi tiga unsur :
a.      Tarbiyah Ruhiyah
b.      Tarbiyah Aqliyah
c.       Tarbiyah Amaliyah
Ketiga-tiganya hanya dapat tumbuh dalam suasana harakah (gerakan) dalam rangka memperjuangkan kalimah Allah.
Ia  bukan diajarkan di sekolah-sekolah sebagaimana umumnya pola pendidikan sekarang namun dihidupkan di ruangan jihad bagi menghancurkan kekufuran dan  menegakkan keimanan.
Rasulullah saw menerima Al Qur’an dan mendidik para sahabatnya selama lebih kurang 23 tahun. Selama masa itu, baginda berjihad menegakkan peraturan hidup dari Allah ini (Iqamatut Deen).
Setiap peristiwa, kesukaran mahupun penderitaan yang dihadapi oleh baginda dan para sahabatnya merupakan proses interaksi mereka dengan Al Qur’an.
Ruh, akal dan aktiviti mereka terus berkembang menuju kesempurnaan kualiti dengan bimbingan dan petujuk Allah. Tanpa perjuangan dan jihad Qur’ani, masyarakat Islam ini tidak akan tegak.
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar”. (QS Al Furqan : 52)

No comments:

Post a Comment