Islam itu bersifat ‘Rabbani’
kerana ia bersandar pada Allah sebagai :
- Ar-Rabb.
- Pencipta
- Pemilik.
- Pemelihara.
- Pendidik.
- Penguasa Alam Semesta.
Allah yang maha
Perkasa dan Maha Bijaksana itulah yang menjadi sumber Islam, menjadi pemilik
dan pendidik mereka yang hidup dalam naungan Islam.
Generasi para sahabat Rasulullah saw
adalah contoh konkrit hidupnya ruh tarbiyah dalam suatu masyarakat.
Allah membimbing dan
memimpin mereka menjadi umat terbaik yang ditampilkan ditengah-tengah manusia.
Umat pilihan ini hidup di bawah naungan hidayah Allah (Al Qur’an) dan gerakan aktiviti mereka tidak lain melainkan penghayatan
dan pengamalan Al Qur’an.
Inilah generasi
Qur’ani yang unik, yang patut diteladani sepanjang masa oleh setiap generasi.
Generasi Qur’ani yang
Rabbani ini telah melaksanakan suatu pola pentarbiyahan yang paling benar dan tepat serta tidak mungkin dapat ditandingi
oleh pola-pola lain yang datang di belakangnya,
apalagi yang datang dari sistem jahiliyah.
Pola ini dapat digali
dari sirah perjuangan Rasulullah saw namun
intipatinya telah dinyatakan oleh Allah swt :
“Tetapi jadilah kamu orang-orang Rabbani, disebabkan kamu selalu mengajarkan Al Qur’an dan
disebabkan kamu sentiasa mempelajarinya”. (QS Ali Imran : 79)
Hidup bersama Al Qur’an bererti :
- Belajar.
- Mengajar.
- Menghayati.
- Mengamalkan.
- Memperjuangkan petunjuk Allah ini.
Allah akan menjadi
pembimbing suatu masyarakat yang melaksanakan sistem ini selama mana
mereka memiliki motivasi yang benar.
“Dengan Kitab (Al Qur’an) itu Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan-jalan keselamatan. Dan dengan
(Al Qur’an) itu Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang
terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus”. (QS Al Maaidah : 16)
Ironiknya kaum muslimin dewasa ini semakin jauh dari pola
ini yang menyebabkan mereka terlepas dari pertolongan
Allah.
Hilangnya interaksi
kaum muslimin dengan Al Qur’an menyebabkan kehilangan imuniti untuk menolak konsep lain. Maka merasuklah
pemikiran-pemikiran jahiliyyah pada diri mereka.
Allah swt memperingatkan mereka :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu (Al
Qur’an) maka baginya sungguh ada kehidupan yang sempit”. (QS Thaha : 124)
Hilangnya ruh dan cahaya Al Qur’an
memang merupakan
satu penyakit yang kronik ditubuh umat Islam. Ia menggigit dan memakan setiap
potensi dan kekuatan umat Islam serta menggelincirkan
pada lumpur-lumpur kesesatan.
Hanya dengan kembali kepada sunnah Rasulullah saw dalam
mentarbiyah para sahabatnya, cahaya yang hampir padam itu dapat dikobarkan kembali.
Tradisi Rasulullah saw pun akan
memberi kekebalan terhadap masuknya kefahaman jahiliyah dari luar Islam. Ia merupakan sistem Rabbani yang khas dan
tidak akan sama
dengan sistem lain.
Tarbiyah Islamiyah
yang sahih meliputi tiga unsur :
a.
Tarbiyah
‘Ruhiyah’
b.
Tarbiyah ‘Aqliyah’
c.
Tarbiyah ‘Amaliyah’
Ketiga-tiganya hanya dapat tumbuh dalam suasana harakah (gerakan)
dalam rangka memperjuangkan kalimah Allah.
Ia bukan diajarkan di sekolah-sekolah
sebagaimana umumnya pola pendidikan sekarang namun dihidupkan di ruangan jihad bagi menghancurkan
kekufuran dan menegakkan keimanan.
Rasulullah saw menerima Al Qur’an
dan mendidik para
sahabatnya selama lebih kurang 23 tahun. Selama masa itu, baginda berjihad menegakkan
peraturan hidup dari Allah ini (Iqamatut Deen).
Setiap peristiwa,
kesukaran mahupun penderitaan yang dihadapi oleh baginda dan para sahabatnya
merupakan proses interaksi mereka dengan Al Qur’an.
Ruh, akal dan aktiviti mereka terus berkembang
menuju kesempurnaan kualiti dengan bimbingan dan
petujuk Allah. Tanpa perjuangan dan jihad Qur’ani, masyarakat Islam ini tidak
akan tegak.




No comments:
Post a Comment